Pages

Rabu, 21 September 2016

Bali, Pulau Dewata Yang Mewah

Lampung, 20 Oktober 2012
Hipotermia Pagi
Bumi dengan sigap menjaring gerimis pagi ini. Akar-akar pohon lincah mencecap air langit. Sudah beberapa bulan kemarau meraja. Dan aku, pagi ini sudah siap menuju kota Bandar jaya, tempatku bekerja. Dengan terpaksa kususuri jalan beraspal yang telah basah dan sedikit licin dikarenakan gerimis belum juga reda. Aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Angin begitu dingin berhembus, rasanya jaket yang aku kenakan tidak mampu mengusir dingin.


Gerimis semakin membesar dan menciptakan hujan lebat, langit begitu hitamnya. Kurasa hujan kali ini akan berlangsung cukup lama. Bergegas aku mencari tempat untuk berteduh. Di teras rumah penduduk akhirnya aku berteduh, lama kutunggu hujan tak juga reda. Aku membuka tas plastik yang berisi baju-baju bersih, kuambil jas hujan yang ada di dalamnya. Setelah merapihkan kembali tas plastik berisi baju bersih dan aku letakkan di bawah jok sepeda motorku, aku kenakan jas hujan dan memutuskan membelah hujan lebat. Aku yakin tas plastikku tidak akan kebocoran, jadi pakaian yang ada di dalamnya tidak akan basah terkena air hujan. Dengan santainya aku menerobos hujan, pikiranku melayang bersama basahnya jaket yang kukenakan. Bunyi tempias hujan menimpa kaca helmku terkadang membuat pemandangan mata kurang bebas.

Perasanku tidak enak setelah menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer lebih, kedua kakiku menapak di sadel bagian belakang motor dengan sigap kupindahkan ke bawah jok motor dimana berada tas plastik yang berisi pakaian bersih. Kosong, kakiku tidak merasakan suatu benda disana. Cepat aku melihat kebawah, dan astaga, seruanku tertahan. Tas plastik berisi pakaian bersihku yang sejatinya ada disitu tidak ada. Raib entah kemana. Hujan mulai reda, tetapi dingin yang merajai tubuhku seperti aku dalam keadaan hipotermia. Aaaarrggghhhh.


Dengan cepat aku memutar arah, aku berharap tasku itu terjatuh di sepanjang perjalanan yang telah kulalui. Badanku masih menggigil. Pelan sekali aku telusuri jalan-jalan basah sisa hujan. Mataku lalang memandang tiap detil jalanan. Setelah dua kali berturut-turut aku telusuri jalanan yang telah kulalui, ternyata tasku benar-benar raib. Hilang entah kemana. Dengan lemas aku terpaksa pulang ke kostanku dan bergegas menuju kantor.

Pagi ini aku kehilangan. Kehilangan hampir 15 stel pakaian bersihku. Dan sebagian pakaian itu sudah aku persiapkan untuk beberapa hari liburan di Bali.







Jakarta, 20 Oktober 2012
Kehilangan Senja

Aku terbang bersama kehilangan
Berharap senja bertandang
Aahhhhh lampu-lampu malam
Bukan terang bintang
Mungkin, pakaianku pun ikut terbang pagi tadi
Menuju kuburnya yang abadi
Meski aku harus membeli lagi
Tetap kuikhlaskan diri

Dan sore ini, di Jakarta aku terdiam
Kehilangan senja dengan momen terindah
Hanya deru mesin kendaraan yang lalu lalang
Lalu aku terlelap dengan lapang.


Bali, 21 oktober 2012
Pukul 16.30 WITA


Bandar Udara Ngurah Rai Bali
Angin laut yang membuat gerah menyapaku ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Bergegas aku dan temanku berjalan menuju pintu kedatangan domestik. Segala sesuatunya sudah kami persiapkan, termasuk penginapan. Kuhirup berulang-ulang udara Pulau Dewata ini, bagai mimpi bisa menginjakkan kaki di tempat yang banyak sekali dikunjungi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri.

Dari bandara Internasional Ngurah Rai Bali, kami langsung menuju penginapan yang dekat sekali dengan pantai kuta. Kami menyewa taksi untuk bisa sampai ketujuan. Sepanjang perjalanan aku memperhatikan bangunan-bangunan gedung yang ada di kota ini. Banyak bule-bule yang lalu lalang. Tak ingin ketinggalan sunset yang indah di pantai kuta, aku menyarakan sopir taxi untuk menurunkan kami di dekat pantai. Sayang sekali rasanya bila meninggalkan moment indah ini. Pantai Kuta sendiri terletak di pulau Dewata tepatnya di kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Hanya berjarak 10 kilometer dari kota Denpasar dan hanya 10 menit perjalanan membuat pantai ini sangat banyak dikunjungi wisatawan yang sedang berlibur di Bali.
Matahari perlahan tenggelam seperti masuk dalam lautan, kilatan lampu kamera dari para pengunjung pantai kuta berkilatan. Hal yang sama juga aku lakukan, tak ingin kehilangan moment indah ini aku mengabadikannya dalam jepretan kamera yang kupegang. Sekilas suasana pantai terang oleh kilatan lampu kamera. Ramai sekali pantai kuta, baik wisatawan lokal maupun asing. Mereka semua saling melihat ke satu tujuan yaitu dimana matahari benar-benar akan tenggelam di satu titik yang indah. Akhirnya niatku kesampaian melihat sunset di Pantai Kuta. Puas memandang sunset akhirnya aku putuskan untuk jalan ketempat penginapan yang sehari sebelumnya sudah kami pesan. Bergegas aku dan temanku berjalan menuju penginapan karena sudah magrib. Beruntung jarak antara penginapan dan pantai dekat, jadi kami bisa jalan kaki menyusuri jalan poppies lane ini. Di sepanjang jalan ini banyak took-toko yang berjejer menjual souvenir khas Bali. Sedangkan di sepanjang jalan pantai Kuta berjejer hotel dan restoran kelas dunia, seperti Hardrock Hotel, Hardrock Cafe, Hotel Ritz Carlton dan sebagainya. Bila ingin memilih hotel atau penginapan dengan tarif yang murah, kita bisa mencarinya di daerah Poppise Lane yang terletak di dekat pantai Kuta juga, karena di daerah ini sudah sangat terkenal oleh kalangan Backpacker baik dari Indonesia maupun mancanegara. Nah karena aku dan temanku termasuk orang yang berkantong tipis, akhirnya kami menyewa kamar hotel di Hotel Baneyase yang tarif semalamnya hanya Rp. 150.000,-. Murah meriah dan yang lebih enaknya lagi hotel ini dekat dengan pantai, jadi bila sewaktu-waktu kami hendak ke pantai tinggal jalan kaki saja.


Pukul 20: 05 WITA











Bali bisa dikatakan sebagai tempat atau surganya orang-orang yang menjunjung tinggi hiburan malam, itu menurutku. Karena di tempat ini dan tepatnya di daerah terdekat tempat penginapan kami banyak sekali café dan bar-bar yang sesak pengunjung terutama pengunjung yang berasal dari luar negeri. Hingar bingar suara musik terdengar dari dalam bar-bar itu. Asap rokok membumbung tinggi terbelah-belah dengan lampu diskotik dan tubuh-tubuh yang bergoyang riang kesana kemari berbaur dengan suara denting gelas dan botol-botol yang beradu. Sesekali mataku sempat melihat banyak remaja bali yang menawarkan sesuatu entah apa, kepada para turis asing yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Narkoba? Aku tak tahu.
Tugu Korban Bom Bali
Jadwalku malam ini menyusuri Jalan Legian yang begitu ramai, kendaraan macet total di sepanjang jalan ini. Hanya nama-nama yang tertera di monumet Bom Bali saja yang setia menghirup udara dengan polusi kendaraan bermotor, sebagai saksi bisu tanpa kata-kata melihat tingkah laku lalu lalang baik kendaraan atau pun pejalan kaki, serta tetap setia mendengar suara bising yang hiruk pikuk di sekitarnya. Monumen ini juga sekaligus saksi sejarah kelam yang terjadi di Bali tepatnya pada tahun 2012 kawasan yang ramai dikunjungi turis asing ini di bom oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tercatat sekitar kurang lebih 200 orang korban jiwa dalam peristiwa ledakan ini. Banyak praduga atau prasangka dalam peristiwa ini yang melakukan adalah orang-orang Islam garis keras, walau pun belum ada bukti signifikan yang ditemukan atas prasangka tersebut. Peristiwa ini juga diabadikan dalam sebuah film yang berjudul Long Road To Heaven.
Puas berjalan kaki menelusuri sepanjang Jalan Legian dan menyempatkan diri foto di depan monumen bom Bali, perutku berontak minta di isi. Lapar, yah saat ini aku benar-benar lapar. Mencari makanan yang halal mungkin salah satu kendala yang kutemui ketika berada di bali, mataku bergidik ketika melihat warung tenda yang memajang babi guling dalam etalase kaca yang diterangi cahaya lampu. Ya menu utama di warung tenda ibu sekar ini adalah babi guling. Hampir saja selera makanku hilang karenanya. Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan warung padang. Benar-benar hebat orang Padang, dimana-mana ada saja warung nasi. Tak terkecuali di Bali, dengan lahap aku manjakan perutku ini.

***

Masih dengan keramaian yang sempurna melewati tengah malam, aku putuskan untuk tidur memeluk mimpi. Dengan lelah aku dan rombonganku pulang menuju kamar penginapan. Satu informasi yang lupa aku sampaikan, aku kebali bersama 4 temanku. Tapi biarlah disini aku tidak menceritakan ke 6 temanku itu. Aku masih ingin sendiri menikmati cerita yang kusajikan dalam catatan perjalananku kali ini. Besok kami akan mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya yang ada di bali, kami hanya tiga hari di bali, itu pun sudah di potong setengah hari ini dan tanggal 23 Oktober pagi-pagi sekali kami sudah harus menuju bandara untuk pulang menuju Jakarta. Jadi, hanya sehari full tanggal 22 Oktober waktu yang kami punya untuk melakukan perjalanan ke tempat wisata yang ada di bali, meski pun kami yakin kami tidak akan bisa mengunjungi semua tempat wisata yang ada di bali. Sebelumnya kami telah menyewa mobil untuk mengantar kami besok pagi.
Aku terlelap tidur dengan khayalan tingkat tinggi, hingga perasaanku terbang dan sayup-sayup aku mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Cindy Cenora penyanyi cilik era tahun 90-an.
Sungguh indah di Pulau Bali
Pulau Dewata menawan hati
Sayang-sayang waktu kupulang
Teringat selalu di pulai ini



Bali, 22 Oktober 2012
Pagi-pagi sudah bikin suasana hati gak enak, segala sesuatu yang telah kami rancang semalam pagi ini buyar, remuk tanpa sisa. Kami berenam pecah kongsi. Sejatinya kami menyewa mobil seharga Rp.300.000/sehari batal. 4 temanku memutuskan untuk pindah hotel dan mereka ada urusan yang lain. AARRRGGGHHHHH


Tidak mau menyia-nyiakan seharian ini, aku dan satu temanku akhirnya menyewa motor. Lebih murah ketimbang harus menyewa mobil Rp. 50.000,- /hari. Meski masih jengkel tetapi aku berusaha tetap tenang. Untung ketika pertama kali turun di bandara aku menyempatkan mengambil beberapa brosur iklan perjalanan dan peta lokasi tempat wisata yang ada di Bali. Lumayan, ini bisa dijadikan sebagai petunjuk perjalanan kami. Sebelumnya kami pun sudah bertanya dengan petugas hotel dan mereka pun memberikan keterangan jalan yang harus kami lalui. Jadilah hari ini kami nekat menyelusuri jalan-jalan di Bali yang padat dan tentunya sangat panas. Parahnya lagi aku tidak mengenakan jaket sebagai pelindung dari sengatan matahari, karena jaket yang aku bawa harus rela kuberikan kepada temanku yang jadi sopir membawa motor membelah jalanan. Dia lupa membawa jaket.

4 komentar:

  1. seru keliatannya, tapi serem juga ya banyak yg minum-minum gitu ...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, sepertinya disana bebas banget

      Hapus
  2. Warung Padang ini semacam Indonesia fast food restolah ya he he. Sama seperti teman suami di Manado, takut nggak cocok sama makanannya (makanan halal si banyak, tapi nggak cocok di lidahnya), jadi warung Padang jadi andalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba setiap ke suatu daerah yang dirasa kurang aman soal makanan ya saya pasti milih warung padang, bahkan ketika di luar negeri pun saya makan nasi padang

      Hapus

Featured Post

Banana Foster Lampung Kembangkan Sayap Menjadi Pusat Oleh-oleh Di Lampung

Setelah Launching perdana pada 10 Juni 2017, setalah setahun menjajaki bisnis di Lampung dengan mengeluarkan makanan khas yang terbuat d...