Pages

Rabu, 16 April 2014

Resensi Buku : Ketika Cinta Harus Pergi



Menikmati Ujian Agar Tidak Terus Terpuruk


Manusia sebagai mahluk yang diciptakan Allah SWT memiliki nafsu alamiah. Diantara nafsu itu, Allah menyusupkan hati manusia agar bisa saling berkasih sayang antar sesamanya serta membangun cinta dengan tetap berpegang teguh bahwa Allah-lah cinta yang paling utama. Mungkin akan timbul satu pernyataan “Mengapa kita jatuh cinta? Dan bagaimana menyikapi cinta yang sudah kita raih?”. Sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia memiliki rasa cinta dan kasih sayang, khususnya kepada lawan jenis. Hal ini merupakan sunatullah dan tidak bisa dihindari. Namun, agama mengatur cara mengungkapkannya sesuai dengan ukurannya agar indah dan tidak merusak.


Ketika cinta antara dua insan berbeda jenis kelamin bertemu, ternyata tidak seindah yang selalu ada dibayangan dan keinginan. Halangan dan rintangan selalu datang silih berganti. Ternyata cinta tak melulu soal kasih sayang, keindahan, dan kebahagian semata. Dalam sebuah percintaan, kemungkinan perpisahan pun dapat terjadi. Dalam buku “Ketika Cinta Harus Pergi” Pada bab 1 menjelaskan bagaimana cinta yang dibangun indah dan berbunga-bunga bisa saja hancur oleh satu dan banyak hal yang melatarbelakanginya. Berbagai macam sebab perpisahannya yaitu kematian, perselingkuhan, perbedaan prinsip, berbeda keyakinan, dan perpisahan karena keluarga.


Sering kali kita berkeluh kesah tentang segala ujian yang ditimpakan kepada kita. Rasa putus asa kerab menyambangi hati kita bila ujian datang. Padahal, tidak ada satu pun yang sia-sia dari rangkaian kejadian yang ditetapkan Allah. Keterpurukkan, kegagalan, kesedihan, keteraniayaan dan perpisahan adalah penggalan-penggalan skenario-Nya yang bertujuan baik (Hal 61). Yah, acapkali kita bertanya “Mengapa Allah menguji kita?”. Bab 2 dalam buku ini mendedah secara gamblang  dan detail bahwa sesungguhnya Allah MahaTahu bahwa kita memang kuat menghadapi ujian.


Bolehkah kita menangis ketika ujian menimpa kita? Jawabannya ada dalam bab 3. Pembahasan dalam bab ini mengenai fakta lain dalam menangis. Menangis terbukti secara ilmiah dan penjelasan dalam Al Qur’an, menangis ternyata  banyak manfaatnya asalkan tidak berlarut-larut.

Hal yang wajar apabila kita disakiti, maka yang timbul adalah rasa benci dan dendam, terlebih hal itu terjadi dari orang yang kita cintai. Pada bab 4 dalam buku ini memberikan opsi yang sangat menarik tentang manfaat memaafkan dan ruginya memelihara rasa dendam.

Selanjutnya dalam bab 5 dan 6 penulis memberikan tips keren untuk memberikan kesembuhan jiwa yang telah rapuh. Obatnya adalah dengan terus menjalin silaturahmi dan terapi menulis.

Bila dalam dua bab sebelumnya mengenai tips penyembuhan jiwa, maka dalam bab 7, bab 8 dan bab 9 memberikan obat untuk hati yang telah hancur. Untuk mengobati rasa terpuruk adalah saatnya bangkit dan pulih serta terus bergerak. Ada yang unik dalam bab 8 ini yaitu adanya tabel aksi nyata yang harus dilakukan agar kita bisa move on. Ketika hati terpuruk, berpikirlah melingkar dengan membuka hati dan logika.

Bab terakhir dalam buku ini yaitu bab 10 dan bab 11 menjabarkan tentang bagaimana cinta bisa memberikan kekuatan positif bagi seseorang. Berdasarkan kajian psikologi ternyata cinta merupakan faktor penentu panjang pendeknya usia seseorang. Ketika cinta itu hadir kembali, semua hal negatif berubah kearah yang positif.
***
Sering kalahnya manusia dalam ujian dan cobaan cinta dan kasih sayang, merupakan kasus nyata yang biasa mendera siapa saja. Padahal,  ujian yang diberikan Allah bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri. Sayang sekali rasanya bila kita harus terus terpuruk dan tidak mampu bangkit  karena urusan cinta dan kasih sayang. Seharusnya kita sadar dan mampu mengelola fitrah yang sangat mendasar ketika menghadapi ujian kehidupan.

Lalu, bagaimana memelihara dan mengelola perasaan cinta dan kasih sayang yang baik?

Mari dengan cepat kita menemukan penyebab rangkaian masalah tersebut.  Rasulullah sebagai suri tauladan dalam memelihara keharmonisan keluarga dapat dijadikan contoh terbaik. Dengan memelihara keharmonisan rumah tangga, sumber energi kehidupan kita tidak akan pernah habis. Kita akan selalu bergerak dengan semangat tak pernah padam. Bukankah akhir lebih baik dari sekedar permulaan yang kita ciptakan?

Buku ini mengajarkan kita satu hal yang sangat istimewa yaitu bagaimana menyikapi cinta dengan ketulusan hati dan penyerahan pada sang Maha Cinta. Karena seyogyanya kita adalah manusia yang lemah dan butuh sandaran. Ketika kita terpuruk, hanya pada Allah-lah kita menggantungkan pertolongan. Buku ini hadir tanpa ada kata menggurui di dalamnya. Segala sesuatu yang dijabarkan di dalamnya adalah satu uraian khas dan ringan. Kedua penulis dalam buku ini mampu menghadirkan cara mumpuni mengobati hati dan jiwa yang terkoyak.  

Bagi siapa saja yang berharap untuk bisa move on dari keterpurukan hati dan jiwa, maka buku ini layak dijadikan bahan acuan untuk mengkaji bagaimana mengobatinya. Semoga anda mendapatkan setitik cahaya terang setelah membacanya. Allahu’alam.

Judul Buku : Ketika Cinta Harus Pergi
Penulis : Elita Duatnova Featuring Aida Ma
Penerbit : Quanta
Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2013
Tebal : 145 halaman
ISBN : 978-602-02-0647-9

Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks
http://bawindonesia.blogspot.com/2014/02/lomba-resensi-buku-penulis-be-writer.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Ibu Pintar Bijak Gunakan Susu Kental Manis

Begini Cara Aku Memperingati Hari Kesehatan Nasional 2018 Manis Belum Tentu Sehat Mengikuti berbagai macam workshop sering kali mem...