STAY WITH US

Jumat, 14 Agustus 2015

Resensi Buku "Ya Rabb Aku Galau"



Menyikapi Galau Agar Lebih Indah


Judul                           : Ya Rabb, Aku Galau
Penulis                         : Aida Ahmad & Ummi K Miqdar
Editor                          : Hijrah Saputra & Adhika Prasetya
Penerbit                       : Erlangga
Tahun Terbit                : Pertama, 2014
Jumlah Halaman          : 170 halaman
ISBN                           : 978-602-241-796-5


Kenapa kita selalu diuji? Tanpa sadar sering sekali kita melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kehidupan yang kita alami ini ternyata tidak semuanya indah dan baik-baik saja. Ada masanya permasalahan kehidupan datang silih berganti. Ujian yang tak pernah kita duga ternyata terjadi pada diri kita, bahkan terkadang kita merasa beban ujian yang kita terima sangatlah besar. Tanpa sadar kita akan menyalahkan Tuhan dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan. Bukankah kita sebagai manusia sudah menjadi sunatullah pasti akan diuji?. Manusia akan diuji dengan sesamanya, hartanya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan hal-hal yang melingkupi kehidupan manusia itu sendiri. Sedikit sekali kita mengetahui apa hakikat ujian tersebut, bukankah Tuhan tidak akan menimpakan suatu ujian yang hambaNya tidak mampu memikulnya? Maka jangan pernah takut dengan berbagai macam ujian. Carilah hikmah dari tiap ujian yang diberikanNya, agar timbul rasa syukur dan ridho dalam diri kita. Ketika seorang hamba telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah, menyakini sepenuhnya janji Allah yang indah, hatinya akan damai dan batinnya begitu tenang menjalani hidup.Sikap ikhlas dalam menjalani sesuatu yang Allah takdirkan akan membentuk suatu penerimaan yang luar biasa dalam diri. Dengan itu, seorang hamba akan selalu melihat apa pun yang diberikan Tuhannya dalam persepsi yang indah.Ikhlas dan berserah diri kepada Allah akan selalu menjadi kekuatan yang mempertahankan kekukuhan jiwa kita, betapapun beratnya beban yang harus dipikul. (Oki Setiana Dewi-Pernik Cinta OSD)


Saat ini sering kali kita mendengar kata galau, segala hal ujian yang kita dapat selalu diidentikkan dengan kata galau. Apa sih sebenarnya arti galau? Apa pula kaitannya dengan ujian yang sering kita hadapi?. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Galau adalah kacau tidak karuan. Dalam hal ini adalah kekacuan yang mempengaruhi pikiran sesorang sehingga menimbulkan keresahan dalam hatinya. Banyak permasalahan hidup yang membuat orang galau dalam menghadapinya. Hal-hal yang kecil maupun yang besar, ujian tersebut membuat kita galau dan tanpa disadari membuat kita semakin jauh dari kebenaran hikmah yang terkandung didalamnya. Aida ahmad dan Ummi K. Miqdar dalam bukunya Ya Rabb Aku Galau, menyajikan kisah-kisah bagaimana seharusnya kita mengambil sikap dan mengemas berbagai ujian yang datang agar tidak membuat kita terus dihantui rasa galau berkepanjangan. Beberapa permasalahan hidup dalam cerita ini mungkin kerab kali kita temui di kehidupan nyata atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya. Ujian-ujian itu diantaranya adalah masalah sosial, ekonomi, rumah tangga, pendidikan,krisis kepercayaan diri sendiri dan pergaulan bebas.
Luka tetaplah luka, tidak ada luka yang tak meninggalkan bekas. Begitu pula hati anak-anak (halaman 19). Buku ini diawali cerita tokoh bernama Asih. Pernah kalian berpikir, bagaimana keadaan rumah tangga yang apabila didalamnya ternyata sudah tidak bisa lagi memberikan kenyamanan, pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan?. Di usia yang terbilang muda, Asih harus rela kehilangan kasih sayang seorang Ayah. Asih adalah korban perceraian keluarga akibat kediktaktoran keluarga dari Ayahnya, semenjak diceraikan sepihak, hak asuh Asih berada di tangan ibunya. Tanpa sosok seorang Ayah dan tidak adanya biaya untuk hidup, sang Ibu kemudian bekerja sebai pembantu rumah tangga. Agar Asih tetap bersekolah, sang Ibu mengijinkan Asih diangkat sebagai anak asuh oleh majikannya.(Halaman 2).
Disinilah kegalauan hati seorang Asih dimulai, bagaimana tidak, ketika seharusnya kasih sayang berlimpah lengkap dengan kedua orang tua, tidak Asih rasakan. Kultur budaya masyarakat Indonesia yang sebagian masih ngotot mempertahankan keegoisan akan hal menentukan jodoh dengan tiga hal bibit, bebet, bobot yang pada akhirnya menjadi ujung tombak perceraian kedua orang tua Asih. Kegalauan Asih akhirnya bertambah ketika Tuhan menakdirkan Ayah Asih meninggal karena kecelakaan, bahkan di hari terakhir setelah sekian tahun tak bertemu, Asih tetap tidak bisa berjumpa dengan Ayahnya.
Buku setebal 170 halaman ini menyajikan sepuluh kisah inspiratif tentang bagaimana menyikapi kegalauan agar menjadi senjata yang mampu merubah hal yang tidak baik menjadi baik. diawali dengan prolog cerita dan diakhiri dengan epilog yang membahas membahas hikmah dari tiap kejadian, buku ini bisa menjadi bahan bacaan yang mendidik baik untuk orang tua, pendidik dan remaja yang kerap dihinggapi rasa galau.
Meski ditemukan beberapa kesalahan ketik, tetapi tidaklah mengurangi kenyamanan kita untuk membaca kisah-kisah inspiratif dalam buku ini. Kelebihannya dalam buku ini adalah tiap cerita saling terkait dengan hukum agama yang mudah dicerna dan cara penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Kelebihan lainnya adalah adanya tips sederhana untuk bisa mengatasi berbagai ujian kehidupan agar kita mampu move on serta adanya doa dan kalimat-kalimat motivasi yang selalu terselip ditiap halaman bukunya.

0 komentar:

Posting Komentar