Rabu, 21 Juni 2017

Mencari Lailatul Qadar Di Luar Masjid.

Salah satu keistimewaan Bulan Ramadan yang Allah berikan kepada hambaNya yang bertaqwa adalah Malam Lailatul Qadar. Apa itu Lailatul Qadar?. Lailatul Qadar adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan yang nilai ibadahnya lebih baik dari seribu bulan.


Malam Lailatul Qadar terjadi dalam malam-malam ganjil selama bulan ramadan yang sering disabdakan oleh Baginda Rasul Muhammad SAW. Rasulullah meningkatkan ibadahnya pada malam 10 terakhir dalam bulan Ramadan. Meski demikian tidak menutup kemungkin bahwa malam Lailatul Qadar bisa saja terjadi pada malam-malam genap salama Ramadan. 


Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadan (HR. Bukhari Muslim)

Intinya, Rasullullah Muhammad SAW memerintahkan ummatnya agar lebih giat lagi dan lebih meningkatkan lagi ibadahnya selama bulan Ramadan. Karena segala kebaikan ada pada bulan Ramadan. 


Berikut adalah secuil kisah yang saya dapatkan dari group Whatt apps, saya tidak tahu siapa penulisnya dan sumbernya dari mana. Bacalah secuil kisah di bawah ini dengan pengahayatan dan rasa syukur yang membuncah hanya pada Allah SWT semata. 

*Wong cilik yang tidak pernah mendapatkan THR maupun gaji ke 13*


"Wah…Pisangnya bagus-bagus Mbah…" kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar.

"Lha monggo  dipundut (Lha silakan dibeli)..." kata perempuan sepuh itu riang.

Sungguh sudah sangat sepuh, rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya, tapi suaranya cemengkling (nyaring), riang. Giginya terlihat masih utuh.

"Ini (pisang) kepok kuning, bagus dikolak.
Ini kepok putih, kalau digoreng sangat manis.
Lha kalau itu Pisang Pista, kulit tipis harum manis, tapi jangan dibeli karena belum matang".

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan, meskipun telah ndredheg (gemetar).

"Sudah lama jualan, Mbah…?"

"Belum, ini ngejar rejeki buat Lebaran."

"Putranya berapa Mbah?"

"Kathah (banyak) pada glidik (kerja)…"

"Kok nggak istirahat saja to Mbah, siyam-siyam (puasa-puasa) kok jualan"

"Lha nggih (lha iya), ini krono siyam niku to (karena puasa itu), nggak boleh istirahat, mumpung Gusti Allah paring (memberi) sehat…"

Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu, kulihat tangannya mengelap  kening dan dahinya yang dlèwèran (bercucuran) keringat dengan selendang lusuhnya....
Di antara para penjual ‘liar’ di pinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu di antaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup (peneduh), padahal hari itu panas luar biasa.

"Kalau pulang jam berapa Mbah?"

"Jam tiga sudah pulang, lha ada kewajiban nyiapkan wedang (minum) buat anak-anak TPA."

"Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah ?"

"Nggih kula piyambak, (ya saya sendiri) …"

"Ooo…begitu, setiap hari, selama puasa?"

“Inggih, wong cuma  anak lima puluhan..."

"Wah, panjenengan (Anda) hebat nggih Mbah…"

"Halah cuma wedang (minuman) sama penganan (makanan) kecil-kecil, yang penting bocah-bocah rajin ngaji mbah sudah seneng, jangan bodoh kaya Mbah ini yang cuma bisa Fatihah..."

Aku makin tercekat, kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.

"Kok banyak banget mau buat apa, mas?" Tanya si mbah heran.

Aku hanya tersenyum.
"Semua berapa Mbah?"

Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang...

"Kok murah banget Mbah…"

"Mboten (Nggak)… itu sudah pas, ini bukan pisang kulakan (dari beli), tapi panen kebun sendiri..."

"Nggih…matur nuwun…" kataku sembari mengulurkan uang.

"Aduh, mboten wonten susuke (gak ada kembalian), belum kepayon (laku)…"

"Saya tukar dulu Mbah…"

Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu. Pisang telah kuletakkan di mobil. Mesin mobil pun kunyalakan. Agak menjauh dari perempuan sepuh itu, Kumasukkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang masih baru, ke dalam amplop, cukup dibagi satu satu untuk anak TPA yang katanya berjumlah lima puluhan tadi. Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.

Ini mbah, sudah saya tukar, sudah pas nggih..."

Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan ndredheg (gemetar), tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.

Esoknya aku mampir lagi, tapi kosong.

Berikutnya aku mampir lagi, kosong juga. Penasaran kutanyakan pada ibu pedagang sebelahnya.
"Mbahe kok nggak jualan Mbak?"

"Oh nggak, beliau … jualan kalau panen pisang aja... Sampeyan to yang kemarin ngasih amplop. Walah Mbahe nangis ngguguk (tersedu-sedu), jare bejo (katanya beruntung) dan dapat qadaran."

Barangkali yang dimaksudkan adalah Lailatul Qadar. Malam yang konon lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat turun dari langit. Ke langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan. Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki, Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula...
Rejeki sesuai kapasitas kita.

Lantas siapakah yang mendapatkannya...??

Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya. Bukan karena ia ahli ibadah. Bukan pula karena i'tikafnya yang  kuat di masjid. Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa *Fatihah* itu. Kesungguhan i’tikaf yang luar biasa. Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa. I’tikaf di masjid yang digelar dalam kekuasan yang maha. Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah. Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan penganan bagi lima puluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah. Hanya cinta tuluslah yang bisa.


Aku jadi teringat  pertanyaan teman, tentang pencapaian Lailatul Qadar. Maka, malam terbaik dari seribu bulan bukanlah instan. Tak bisa dijujug (tiba-tiba) dengan akhiran, semua butuh proses, karena karunia terindah butuh wadah (tempat). Yang dibangun dengan mengais kebaikan, sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.

Itulah sesungguhnya *QADARAN* atau yang mendapatkan kemuliana seribu bulan

Semoga cerita yang saya sadur kembali dari group WA dan sedikit memperbaiki dengan tidak merubah isinya tersebut menjadikan inspirasi buat kita semua bahwasanya malam seribu bulan bisa kita dapatkan dimana saja dan dengan cara apa saja selama kita mampu menaplikasikannya dalam denyut nadi kehidupan kita sehari-hari dengan penuh ketaqwaan kepada Allah SWT. Wallahu 'Alam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar