Minggu, 06 November 2016

PUISI : TAHTA BERDARAH

Tahta Berdarah



Gerbong kereta ini hendak kemana bila aku terpaksa menemui kalian?
Mungkin itu ucapmu dalam hati ketika kami datang bertandang ke rumah tuan
Jangan takut, hati kami putih bersih seperti baju kami
Jadi jangan takut tuan

Di gerbang istanamu, kami mengetuk tuan. Dengan damai
Tapi kau berlari diantara gerbong kereta api
Ini perlu ditinjau dan di awasi, katamu
Lantas kamu tega tinggalkan kami?

Apakah tuan masih terus menyimpan api? Hati-hati tuan, tamumu tak minta makan.
Bahkan dari penjuru nusantara memberikan semua yang mereka punya buat kami
Apalagi hanya sekedar makanan
Jadi kami tidak ingin kau jamu di meja makan istanamu yang megah seperti tamu yang lain

Malam semakin larut, kau tak jua menemui kami
Sejuta ummat menunggumu dengan sabar, tetapi apa yang kami terima?
Tetiba air menghujani kami, pedih, pedih sekali
Jangan nodai mata kami, muliakanlah tamumu, tuan.

Kami memilih tuan, karena kami percaya
Di tangan tuan, nusantara akan maju menjadi negeri baldatun toyyibah
Dengan ikhlas hati kami memilih tuan
Kursimu adalah tubuh-tubuh kami. Jangan goreskan luka di hati kami, tuan.

4 november kami bertamu dengan damai ke rumah tuan. Satu juta terkumpul ini adalah mata hati rakyat. Bukan harimau yang hendak mencari daging segar. Mungkin tuan, juga teman tuan dan rekan-rekannya tertawa jumawa melihat layar kaca. Kami disini berdzikir bersama menyebut Asmaul Husna

Aroma tubuh kami adalah tindakan dan sapaan lembut demi tegaknya keadilan
Jangan bermain darah, karena darah kami adalah darah pejuang negara ini. Kami bersatu dalam damai, kami cinta kedamaian. Tetapi kami tidak tahu menahu bila mungkin bala tentara tuan menaruh tungku di bawah darah kami

Kotabumi, 4 - 7 November 2016
foto diambil dari http://jateng.tribunnews.com/2016/11/06/aksi-4-november-dan-kerusuhan-penjaringan-tidak-saling-terkait
 

3 komentar: