Pages

Selasa, 29 April 2014

Resensi Buku Keajaiban Sholat Subuh



Menikmati Kemulian Subuh

Sholat merupakan ibadah yang mempunyai sejarah panjang dalam penerapannya. Sebelum peristiwa Isra' mi'raj, ibadah sholat hukumnya sunnah muakad. Perintah sholat wajib diberikan oleh Allah SWT langsung kepada Nabi Muhammad SAW, saat itu perintah sholat 50 kali dalam sehari semalam. Diceritakan ketika Nabi Muhammad SAW turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Nabi Musa, ketika itu Nabi Musa menyarankan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon pada Allah SWT agar meringankan perintah sholat. Akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Muhammad SAW meringankan ibadah sholat menjadi 5 kali sehari semalam seperti yang kita ketahui sekarang yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.


Di antara sholat-sholat yang ada, Sholat Subuh adalah yang mengawali hari, ia adalah sholat paling penting yang harus dijaga betul pelaksanaannya, sebab tidak semua orang bisa konsisten, bahkan sholat ini terasa amat berat bagi orang-orang munafik (Hal 15). Sabda Nabi Muhammad SAW, “Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak “ (HR. Ahmad).

Al qolam group ( http://www.alqowamgroup.com/ ) sebagai penerbit yang konsen menerbitkan buku-buku keislaman yang terus mengalami cetak ulang berkali-kali mampu menghadirkan buku yang benar-benar dibutuhkan oleh ummat. Salah satu buku terjemahan yang di hadirkan oleh penerbit al qolam group ( http://www.alqowamgroup.com/ ) adalah Keajaiban Sholat Subuh. Buku terjemahan karya Dr. ‘Imād ‘Alī ‘Abdus Samī’ Husain, seorang Doktor Bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo, setebal 167 halaman ini, terdiri dari 6 bab penting dalam membahas secara detail mengenai Sholat Subuh

Bab pertama dalam buku ini menyajikan secara detail mengenai defenisi Fajr. Hal ini berkaitan pula dalam pelaksanaan Sholat Subuh yang dilakukan pada saat Fajr. Kata-kata Fajar dipakai untuk makna sholat subuh, karena termasuk bab penamaan sesuatu berdasarkan apa yang semestinya ada padanya (tasmiayatu 'sy-syai' bi lazimihi) (Hal 25)

Banyak perdebatan mengenai kapan seharusnya Sholat Subuh dilaksanakan. Bab kedua dalam buku ini akan menjawab secara gamblang mengenai waktu diperbolehkannya melakukan Sholat Subuh dengan acuan Al Quran dan Al Hadist, sehingga siapa saja yang membaca akan langsung mengetahui kapan seharusnya sholat subuh dilaksanakan.

Waktu fajar, merupakam saat-saat dimana kehidupan mulai bernafas dalam kemudahan, kegembiraan, senyuman, keakraban, kecintaan, dan kerelaan hati (Hal 40). Penulis mendedah secara indah berdasarkan nash Al Quran dan Al Hadist mengenai keutamaan yang akan didapat oleh seseorang apabila konsisten melaksanakan Sholat Subuh berjamaah pada bab ketiga dalam buku ini.

Sering kita lalai untuk melaksanakan Sholat Subuh. Berbagai macam alasan melatarbelakangi kita kenapa tidak bisa konsisten melaksanakan Sholat Subuh. Bab selanjutnya dalam buku ini adalah mendedah secara gamblang kiat-kiat praktis untuk memelihara pelaksanaan Sholat Subuh secara konsisten. Pembaca akan diberi arahan mudah untuk bisa melaksanakan kiat praktis melaksanakan Sholat Subuh secara konsisten secara bertahap.

Sebagai acuan untuk melakukan suatu ibadah adalah bagaimana kita mengetahui fikih tentang berbagai hukumnya, agar kita beribadah kepada Allah SWT di atas dasar ilmu. Penulis buku ini menyadari hal tersebut, sehingga perlu menjabarkan bab khusus mengenai hukum-hukum penting terkait dengan Sholat Subuh. Dalam bab ini penulis menjabarkan berbagai hukum yang terkait langsung dalam ibadah Sholat Subuh, sehingga apabila ada perbedaan dalam pelaksanaannya semisal adzan pada saat Sholat Subuh, perlu satu kali ataukah dua kali. Maka dalam bab ini penulis menjelaskan secara detail mengenai adzan Sholat Subuh. Selain memperkuat pembahasan dalam bab ini dengan dalil Al Quran dan Al Hadist, penulis juga menjabarkan hikmah-hikmahnya. Serta masih banyak lagi yang akan pembaca temui mengenai ilmu yang berkaitan langsung dalam pelaksanaan Sholat Subuh.

Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika Sholat Subuh tengah dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masjid itu mengadu kepada Robbnya Yang Agung (Sinopsis buku)

Dalam pembahasan bab selanjutnya, seakan penulis menyentil kita mengenai kondisi kekinian kaum muslimin dalam melaksanakan sholat berjamaah di masjid, terutama bagi kaum laki-laki. Ternyata wanita salaf tekun melaksanakan sholat subuh, di manakah kaum lelaki kita?

***

Buku terbitan Al qolam group ( http://www.alqowamgroup.com/ ) ini, tergolong buku yang membahas fikih yang ringan dan komunikatif. Terjemahannya cukup baik sehingga memudahkan pembaca dalam memperdalam mengenai Sholat Subuh. Bertutur dengan kesan dan gaya yang jauh dari menggurui, buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang menginginkan tetap konsisten melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di masjid. Semoga kita dapat memetik hikmah yang bertaburan dalam buku ini, sehingga kita mampu mengaplikasikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu’alam.

***
Data Buku

Judul Buku                  : Keajaiban Sholat Subuh: Menguak Misteri Kemuliaan dalam Sholat Subuh
Judul Asli                    : Al-Badru fi`I-Hatstsi `alā Sholātī `I-Fajr
Penulis                         : ‘Imād ‘Alī ‘Abdus Samī’ Husain
Penerjemah                  : Muhammed Syedayet
Penerbit                       : Wacana Ilmiah Press
Cetakan I/ Tahun        :  Febuari  2006
Ukuran
   p x l                          : 205 x 140 mm
   tebal                         : 8 mm
   Jumlah halaman          : xi + 167 hlm

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Ziarah Kubur, Menjelang Ramadan Jadi Bagian Tradisi Masyarakat Di Lampung Utara

"Dahulu, Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Namun sekarang berziarahlah"  (HR. Muslim) Ramadan 1439 H ...