Kamis, 15 November 2012

Catatan Perjalanan : Dan Tersenyumlah


Sabtu, 03 November 2012

Rembulan sempurna memberikan cahayanya malam ini, ditemani secangkir kopi dan tembang kesayangan, membuat malam ini bagaikan tak ada sesal yang berarti. Benar dengan apa yang  kebanyakan orang bicara bahwa malam minggu adalah malam yang panjang dan memberikan kesenangan yang lapang. Seperti malam ini, selepas pulang kerja dengan rutinitas yang begitu membosankan, hal yang paling menggembirakan adalah menikmati hari libur. Nah kali ini selain aku hendak melepas penat di Bandar Lampung, besok juga aku akan menghadiri pesta pernikahan temanku di dua tempat dan mungkin setelah itu aku hendak menjenguk orang sakit.

Membicarakan soal pernikahan, terkadang aku dibuat pusing sendiri. Jujur sampai dengan saat ini aku masih juga belum mendapatkan pendamping hidup. Meski jujur saat ini aku sedang menjalani proses atau lebih tepatnya lagi aku akan merasakan hidup berumah tangga. Yah mungkin bulan desember di depan adalah momen paling berarti dalam hidupku. Melepas masa lajang impianku.




Panjang kali lebar aku dan teman-temanku mengobrol sambil menikmati secangkir kopi hangat. Asap rokok mengepul dari teman-temaku yang perokok. Jujur aku tidak suka dengan bau asap rokok. Terkadang aku berpikir dengan mereka yang suka sekali membakar uang. Yah merokok menurutku sama saja dengan membakar uang. Pekerjaan sia-sia bukan?. Entahlah. Bukankan sehat itu mahal?. Terkadang jalan pemikiran orang lain memang tidak bisa ditebak. Hal seperti ini yang membuatku senang. Aku bisa bercerita apa pun yang kumau kepada teman-temanku atau mungkin hanya becanda. Hingga tak terasa malam makin merambat, udara kian dingin sedingin sisa kopi di gelas-gelas kami. Angin basah mulai menanam titik embun.


Minggu, 04 November 2012

Enggan rasanya meninggalkan kamar hotel yang kusewa seharga Rp. 200.000,-/sehari ini. Tubuhku masih menggeliat di atas tempat tidur yang empuk. Mimpi semalam rasanya masih mengambang sejarak satu jengkal di kepalaku, mungkin dewa mimpi masih enggan mencabut mimpi-mimpi indahku semalam. Kamar hotel tempatku menginap masih memeluk dingin meski AC telah kumatikan dari semalam, mungkin dinding-dinding kamar ini menyimpan dingin. Jadi meski pun AC dimatikan tetapi dia masih mengeluarkan hawa dingin. Masih dengan selimut tebal, kunyalakan TV. Hari minggu seperti ini film kartun yang meraja. Melihat berita, rasanya bosan dengan berita yang disajikan yang selalu itu-itu saja. Tentang korupsi yang terus menggerogoti negeri ini hingga terus jatuh ke jurang kemiskinan. Perasaan tidak pernah kelar urusan uang di negeri ini. Semakin bosan dengan kinerja pemerintahan yang menurutku tidak menunjukkan hasil yang signifikan menuju arah perubahan. Akhirnya pilihanku jatuh pada channel national geographic. Menonton dunia binatang bawah laut dengan keindahan yang begitu memukau. Terkadang aku berpikir kehidupan binatang rasanya lebih damai. Ikan-ikan seperti berlenggak-lenggok menunjukkan keindahan warnanya tanpa beban. AAARRGGHH mataku semakin damai begitu melihat teduhnya dunia bawah laut. Subhanallah.

***

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku bergegas mandi dan bersiap-siap check out dari kamar hotel sebelum jam dua belas siang ini. Kurapihkan tempat tidur meski kalau aku mau aku tinggalkan saja tempat tidur itu dengan berantakan toh nantinya petugas kamar hotel akan merapihkannya, tetapi sudah menjadi kebiasaanku sehabis tidur pasti akan aku rapihkan.

Sehabis Dzuhur, bergegas kulajukan sepeda motorku kearah pasar tamin sekitar 15 menit dari tempatku menginap. Tujuanku yang pertama adalah ke tempat pesta pernikahan adik sahabatku. Aku begitu dengan keluarganya, sehingga aku merasa dekat dengan keluarga ini. Perhelatan pesta ini kunilai termasuk mewah, mereka menyewa semacam gedung yang biasa untuk dijadikan tempat pernikahan. Ada beberapa pondokan yang sengaja disajikan untuk tamu undangan. Ketika aku sampai di pesta pernikahan Lina dan Hendra ini, nafsu makanku tiba-tiba menguap. Aku hanya mengambil sedikit nasi dan sepotong rendang. Aku tidak mencicipi makanan lain yang ada di pondokkan masing-masing. Sebentar ngobrol bareng sahabatku, aku pamit untuk melanjutkan perjalanan. Karena pada hari yang sama juga sahabatku Bagus Yuli dan Lentera pun mengadakan pesta pernikahan mereka. Aku bersalaman dengan kedua mempelai dan menyempatkan diri untuk foto sejenak.

***
Gerimis mulai menebarkan basahnya ke Bumi, hanya sedikit. Sejenak kubuka layar handphone-ku dan melihat sms dari Tri Lego Indah semalam.

“Rumah Bagus di daerah Way Kandis Bang. Kalau mau bareng nanti jam 1 bang, janjian di Surya Mart. Tapi kami pada bawa motor”

Kujawab dengan kata oke sebagai balasan sms yang telah dilayangkan oleh si Lego, itu panggilan pendekku padanya. Berarti tujuanku setelah ini adalah Surya Mart. Gerimis kecil masih mengiringi langkahku, tetapi kuterabas saja berhubung waktu tidak banyak di Bandar Lampung.

Sesampainya di depan Surya Mart, kubuka handphone-ku dan mengirim pesan pendek pada Lego.

“Jadi yah kumpul di depan Surya?. No Lego abang telpon gak bisa-bisa”

Lama aku menanti balasan pesan dari Lego, gerimis sudah berganti panas. Cuaca semakin tidak bisa di tebak saja. Giliran aku sedang menunggu malah Matahari dengan ganas menyinari bumi. Seolah-olah hendak bermain-main dan berkata denganku bahwa sia-sia saja kamu menunggu si Lego. Mungkin begitu katanya. Karena lama menunggu belum juga ada sms balasan. Aku mencoba menelpon kembali, tetapi ternyata tetap tidak bisa. Akhirnya aku melayangkan sms lagi.

“abang sudah di depan Surya. Koq gak ada orang?”


Seperti anah hilang aku menunggu, peluh mulai menetes satu-satu dari dahiku. Gerah rasanya menunggu. Akhirnya aku putuskan untuk pergi sendirian. Yah dengan hanya bermodal sms yang menyatakan rumah Bagus ada di daerah Way Kandis, aku nekat pergi sendiri.

Sejam sudah akhirnya aku mutar-mutar di daerah Way Kandis. Banyak yang melaksanakan pesta pernikahan hari ini. Tak terkecuali di daerah ini. Aku perhatikan nama-nama yang tertera tempat pesat dilaksanakan. Pelan-pelan aku melajukan kendaraan sambil membaca satu-satu, dan ternyata tak ada nama yang tertera. Panas lalu gerimis lalu panas lagi, aku masih berputar-putar tak tahu dimana tempat yang harus aku tuju. Aku berhenti sejenak dan menumpahkan kekesalanku via handphone.

“Di telpon gak pernah bisa. Di sms enath masuk entah gak soalnya gak ada balasan”

Sms pertama sukses terkirim dan tanpa balasan. Mulai kesel, mulai berprasangka macam-macam. Di telpon berkali-kali tetap saja tidak ada balasan. Aku mencoba sms ke teman sesama penulis yang ada di Bandar Lampung ini yang kebetulan kami di satukan oleh wadah kepenulisan. Sms kulayangkan kepada Dilla, Mala, Ani, dan Yasmin. Tetapi semua jawaban sama yaitu tidak bisa datang. Ada yang bilang tidak tahu, ada yang bilang sedang mengurus bayi, ada yang sedang hamil. Aduh semakin pusing saja kumemikirkannya.

“Akhirnya abang nyasar keujanan kepanasan di daerah Way Kandis. Si Bagus di telpon juga gak diangkat-angkat. Kesel, jengkel, juga sedih”

“Yang herannya no handphone kamu juga gak bisa di telpon sama sekali. Subhanallah, sms saja juga gak di balas”

Hanya istigfar berkali-kali yang bisa aku lakukan saat ini, kalau saja bukan karena ingin bersilaturahim menyambung persaudaraan, ingin rasanya aku saat itu juga pulang meninggalkan daerah ini. Sabar yang kulakukan ternyata membuahkan hasil. Ada sms masuk dengan nomor yang tidak kukenal.

“Assalamualaikum, Bang Yan sudah di tempat Kak Bagus? Arahnya dimana? By Betty”

Dengan sedikit kesal dan diiringi emosi aku telpon Betty. Aku seakan curhat mengenai kekesalan dan kejengkelanku hari ini. Dengan sebal akhirnya kumatikan handphone dan memutuskan pembicaraanku pada Betty. Aku ingat satu nama lagi yaitu Mba Naqy, karena no handphone mba naqy satu provider makanya aku memutuskan untuk menelpon beliau. Setelah berbicara dan sms kepada Betty dan Mba Naqy, aku mendapatkan alamat jelas dari mereka berdua.

“Jl. Tirtaria Gg. Nangka No 28A Way Kandis”

Alhamdulillah, finaly. Aku sampai juga di tempat pesta pernikahan Bagus dan Lentera. Sepeminuman teh, Mba Naqy dan anaknya serta Betty muncul juga. Bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka tentang kepenulisan, rasanya semua kekesalan dan kejengkelan yang tadi sempat menyelimuti hatiku cair. Ada kehangatan yang kami bangun dalam perbincangan kali ini. Banyak cerita yang mengalir dari kedua mempelai dan dari kami satu persatu yang tentunya mengerucut dalam bidang kepenulisan. Hanya sebentar kami berempat ke pesta sahabat kami ini yang aku nilai pesta yang sangat amat sederhana bila aku bandingkan tempat pesta yang sebelumnya aku kunjungi. Kami sempatkan melaksanakan sholat Ashar di masjid terdekat. Selanjutnya pembicaraan kami tentang kepenulisan kami habiskan di tempat warung bakso yang juga masih di daerah Way Kandis. Ada semangat dan kekuatan yang tiba-tiba meletup untuk terus menulis dan memajukan Lampung agar tetap bertahan dan melahirkan penulis-penulis baru. Waktu begitu singkat Mba Naqi dan anaknya serta Betty pamit pulang. Sedangkan aku melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk ibu dari temanku yang sakit. (untuk sesi rumah sakit, Insya Allah akan penulis ceritakan di lain kesempatan. Karena sehari setelah aku menjenguk Ibu temanku yang sempat aku jenguk meninggal dunia)

Dan Terseyumlah
ketika mendapat kesulitan
sebab di balik kesulitan ada kemudahan

Dan Tersenyumlah
ketika mendapat masalah
sebab di balik masalah ada proses pendewasaan diri

Bandar Lampung - Bandar Jaya, 03-08 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar